Nasional Sekjen DPP PWRI Tentang Pentingnya Kompetensi Wartawan

Sekjen DPP PWRI Tentang Pentingnya Kompetensi Wartawan

Kabar1lamongan.com – Dalam berbagai kesempatan, dalam kapasitas saya sebagai pekerja media, sering mendapat pertanyaan tentang kompetensi wartawan. Pertanyaan ini menarik untuk disimak, di tengah bertumbuh kembangnya industry media di tanah air, yang banyak didominasi oleh media-media online.

Dengan pesatnya pertumbuhan media seperti sekarang ini, tentunya harus pula diimbangi dengan wartawan yang memiliki kompetensi. Ini sangat penting mengingat salah satu tugas wartawan, melalui medianya,  adalah menyampaikan informasi yang mengedukasi masyarakat. Wartawan, dituntut untuk mengembangkan profesi jurnalistiknya, untuk mencerdaskan bangsa.

Tugas wartawan, tidak sebatas menyampaikan informasi kepada masyarakat saja, lebih dari itu wartawan dituntut sesuai dengan moral (etika) jurnalistiknya, sehingga mampu melahirkan berita-berita yang mampu membuat masyarakat memahami dan mengambil pelajaran yang berguna dari berita yang dipublikasikan.

Wartawan adalah profesi mulia, dimana hasil karyanya bersinggungan langsung dengan kepentingan khalayak ramai. Dikatakan demikian, karena jika tidak memperhatikan kaidah-kaidah kewartawanan atau jurnalistik, maka karya seorang wartawan tidak saja menyebabkan kerugian obyek berita, namun juga berdampak pada keresahan sosial.

Aktifitas jurnalistik sebagai suatu profesi, dituntut memiliki profesionalisme yang tinggi, dibutuhkan intelektualitas yang cukup, memiliki kecakapan menulis, mampu berbahasa dan berkomunikasi yang baik dan benar, dan tak kalah penting, mampu bersosialisasi dengan handal.

Pentingnya kompetensi wartawan

Sebagai penyampai informasi kepada masyarakat, wartawan dituntut untuk untuk mengedepankan moral kewartawanannya secara benar, dengan merujuk pada kode etik jurnalistik. Sebagai agen perubahan sosial ( agent of social change ) wartawan berkewajiban melakukan perubahan perilaku sosial masyarakat agar menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Nilai-nilai profesionalisme wartawan sebagaimana tercantum dalam kode etik pers, adalah akurat, obyektifitas dan berimbang. Media, melalui informasi yang disampaikan, harus bisa mempengaruhi sekaligus merubah pola pikir, sikap dan perilaku publik. Harus pula mendidik, mengajak dan menyajikan ruang ilmu pengetahuan bagi pembacanya. Peranan media, sebagai sarana komunikasi, sangat menentukan perubahan moral dan watak masyarakat.

Untuk itu, wartawan harus memiliki naluri yang kuat untuk memilih dan memastikan mana peristiwa yang layak diberitakan, mana pula yang tidak layak. Untuk memastikan layak tidaknya, maka news value sangat penting.

Namun, dalam praktek yang terjadi di lapangan, sebagian perusahaan media cetak maupun online langsung menerjunkan wartawannya tanpa dibekali pengetahuan jurnalistik dank ode etik. Akibatnya, wartawan kerap menghadapi persoalan, karena abai terhadap masalah kode etik jurnalistik serta prinsip-prinsip jurnalistik yang diatur dalam Undang-Undang Pers.

Buntutnya, komplain datang dari pembaca, nara sumber, dan dipanggil Dewan Pers apabila beritanya menimbulkan sengketa pers. Di sinilah pentingnya kompetensi bagi wartawan.

Wartawan yang memiliki kompetensi, adalah wartawan yang melakukan tugas-tugas jurnalistiknya dengan professional. Wartawan harus mampu mengelola informasi untuk dijadikan suatu berita, yang kemudian dimuat di media. Wartawan , secara sosial tidak hanya bertanggung jawab kepada institusi dan nara sumber tempat ia meliput dan mencari informasi, namun juga terhadap masyarakat yang membaca beritanya, perusahaan media, dan organisasi kewartawanan tempatnya bernaung.

Wartawan dalam mencari informasi dan berita, di lapangan dan mengolahnya kembali menjadi suatu berita harus sesuai dengan kaidah dan unsur-unsur jurnalistik yang disebut 5W + 1H, yaitu; What/Apa, Who/Siapa, When/Kapan, Where/Dimana, Why/Kenapa) dan How/Bagaimana.

Tanggungjawab dan kinerjan jurnalistik seorang seorang wartawan tergolong berat karena konsekwensinya harus mematuhi etika dan moral yang sudah ditetapkan dan disepakati selain Undang-undang Pokok Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Dalam era digitalisasi saat ini, berbagai media baru terus bermunculan, salah satunya media siber atau online. Secara langsung maupun tidak langsung, dengan perkembangan teknologi digital tersebut, kemampuan atau skill wartawan pun menjadi berubah.

Wartawan media siber atau online, tidak hanya dituntut mampu menguasai kemampuan dasar jurnalistik, tapi lebih dari itu. Menguasai teknik dan tata Bahasa yang efektif dan cerdas memecah sebuah tema dalam satu liputan menjadi beberapa sub tema, kemudian menjadi beberapa bagian berita yang menarik dengan makna yang saling berkaitan dalam bingkai tema yang sama, sehingga menjadi menarik dan menambah wawasan bagi pembacanya.

Menurut Dewan Pers, ada enam manfaat jika wartawan tersebut memiliki kompetensi, yakni pertama meningkatkan kualitas dan profesionalisme wartawan. Kedua, menjadi acuan system evaluasi kinerja wartawan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Ketiga, menegakkan kemerdekaan pers berdasarkan kepentingan publik. Keempat, menjaga harkat dan martabat kewartawanan sebagai suatu profesi penghasil karya intelektual. Kelima, menghindarkan penyalahgunaan profesi wartawan. Keenam, menempatkan wartawan pada kedudukan strategis dalam industry pers.

( bersambung )

*) Penggiat media, Sekretaris Jenderal DPP Persatuan Wartawan Republik Indonesia (D. Supriyanto JN)