Agro Sektor Kolaborasi Petani dengan Pemerintah hadapi Perubahan Iklim di Lamongan.

Kolaborasi Petani dengan Pemerintah hadapi Perubahan Iklim di Lamongan.

Kolaborasi Petani dengan Pemerintah hadapi Perubahan Iklim di Lamongan.

Kabar1lamongan.com – Umumnya padi tumbuh di wilayah yang memiliki irigasi air yang mencukupi, tapi lain halnya dengan wilayah di Lamongan yang termasuk dalam daerah rawan kekurangan air pada musim kemarau. Namun terdapat dua aliran sungai besar, sungai brantas dan sungai bengawan solo tetap tak mencukupi untuk kebutuhan pasokan air bagi pertanian.

Meski begitu Lamongan memberikan fakta yang mengejutkan yakni termasuk ke dalam salah satu produsen padi terbesar di Jawa Timur dengan menghasilkan 776.950 ton padi kering giling atau  yang setara 505.000 ton beras, sehingga memunculkan pertanyaan bagaimana cara petani Lamongan dalam mengatasi krisis air dalam bertani selama ini?

Advertisement

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita dapat melihat strategi yang digunakan petani yakni dengan mengadaptasi dari  kearifan lokal dan kreativitas, contohnya seperti memanfaatkan embung (penampungan air kecil), sumur bong, sumur bor, dan memanfaatkan tenaga dari diesel yang digunakan dalam pengambilan air dari dalam tanah.

Dari cara yang digunakan dianggap kurang modern tapi hal tersebut terbukti cukup efektif dalam menjaga kelembaban lahan sawah. hanya dalam hal pengairan yang memerlukan inovasi, Pemilihan strategi tanam juga penting, sehingga petani di Lamongan mulai melirik pada varietas padi yang berumur pendek, namun dapat dipanen lebih cepat sebelum memasuki musim kemarau.

Para petani juga menerapkan sistem tanam gadu, di mana menaman padi dilakukan hanya pada musim hujan dan menaman komoditas pagan musim kemarau, seperti tanaman palawija, jagung, kedelai, dan kacang tanah. Dari pola ini juga petani dapat menyesuaikan dengan kebutuhan air yang tersedia dan meminimalkan risiko kerugian akibat dari gagal panen dapat di tekan, dengan begitu itu kebutuhan ekonomi dalam rumah tangga bisa dipenuhi.

Bukan hanya stop di situ saja para petani juga melakukan kerja sama antar desa dalam pendistribusian air, dari hal ini kita dapat melihat masih terjaganya nilai gotong royong dalam masyarakat di tengahnya modernisasi pertanian. Dan harus ada dukungan pembangunan dari pemerintah terkait dengan irigasi air dalam penyaluran air ke daerah yang krisis air, oleh sebab itu pemerintah daerah Lamongan melakukan perbaikan terhadap enam belas titik daerah irigasi yang mencakup daerah irigasi bengawan solo, waduk palangan, waduk paprit, waduk jajong, waduk makamsantri, waduk pading, slius keyongan, rawa bulu, Waduk Bowo, Rawa Manyar, Rawa Kwanon, Waduk Takeran, Waduk Delikguno, Waduk Tuwiri, Waduk Canggah, dan Rawa Geger.

Perbaikan ini mencakup saluran primer dan sekunder, serta  adanya peningkatan kapasitas tampung air pada waduk, dan perbaikan terkait dengan struktur pintu air, bahkan menggunakan distribusi air dari sungai Brantas melalui pipa yang tujuan awalnya sebagai air minum dan kini dimanfaatkan untuk irigasi.

Hal ini diupayakan dalam menjaga ketersediaan air yang memiliki peran sebagai kunci dalam mendukung ketahanan pangan daerah. Pemerintah Lamongan juga berkomitmen akan memantau progres dari pengerjaannya dan memastikan manfaatnya dapat langsung di rasakan oleh petani. Semua hal ini bukan hanya soal kerja keras petani, tapi ada juga hasil sinergi antara masyarakat dan pemerintah.

Namun, keberhasilan dari rencana ini bukan tanpa adanya ancaman, karena perubahan iklim yang tidak menentu dapat menjadi tantangan terbesar. Karena musim kemarau bisa saja semakin panjang dan panas, dan musim hujan yang kadang terlambat datang atau dengan intensitas yang berlebihan, dikhawatirkan dapat mengancam pola tanam yang telah di rancang. Dari situasi ini dapat mengancam posisi Lamongan sebagai produsen lumbung padi tidaklah abadi, jika tidak dikelola dengan visi yang jangka panjang.

Sebaliknya, kita dapat memiliki peluang besar yang terbuka, jika pengelolaan sumber daya air lebih baik lagi, dengan menggunakan sistem dan teknologi irigasi yang modern. Lamongan baru saja bertransformasi menjadi model pertanian yang adaptif, dengan luas tambah tanam yang naik sekitar 8.000 hektare pada tahun 2024, jika hal  ini berkelanjutan maka Lamongan bisa menginspirasi daerah lain terkait agraria nasional.

Dengan ini perjalanan pertanian di Lamongan adalah salah satu bukti nyata dari pembangunan pertanian berkelanjutan, dan keberhasilan ini memberikan dampak ekonomi bagi petani, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan regional.

Menurut saya Lamongan memiliki potensi untuk berkembang menjadi lebih baik, dengan menggunakan dukungan irigasi yang modern dan adanya sistem untuk memantau kelembapan tanah, adanya kolaborasi dengan lembaga peneliti dalam mengembangkan varietas padi yang lebih tahan pada musim kemarau dan memperkuat posisi Lamongan sebagai daerah pertanian yang unggul selain itu dapat dikembangkan juga terkait proses pengolahan dari hasil panen dari palawija untuk meningkatkan nilai tambah pada  daya jualnya, pemerintah dapat melakukan pelatihan dan bantuan peralatan dalam pengolahan hasil panen.

Mungkin juga bisa dilakukan pelestarian ekosistem yang ada di sekitar sungai dan waduk dengan adanya penanaman pohon dan penghijauan agar dapat membantu dalam menjaga kelestarian sumber air, partisipasi aktif dari petani juga diperlukan dalam menjaga infrastruktur irigasi.

Kesimpulannya, Lamongan mengajarkan kita bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya, dan melalui kombinasi kearifan lokal, inovasi yang sederhana, gotong royong antar warga, dan adanya dukungan dari pemerintah dapat memberikan dampak yang baik, dan bisa sebagai contoh untuk daerah yang mengalami tantangan yang serupa dalam mungkin bisa mengatasinya dengan mencoba cara yang telaah diterapkan di Lamongan. (Red/Tia)

Pembahasan oleh: Listia Fariyanti, Prodi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Tia Mahasiswi Uin Sunan Ampel Surabaya: Listia Fariyanti. Prodi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Judul Artikel Berita: Kolaborasi Petani dengan Pemerintah hadapi Perubahan Iklim di Lamongan. Foto :kabar1
Advertisement