Ekonomi Kedaulatan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Nasional.

Kedaulatan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Nasional.

Kedaulatan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Nasional.

Kabar1Lamongan.com – Selama negara kita masih punya stok pangan yang melimpah dan rakyat masih bisa makan dengan harga yang masih terjangkau, negara lain atau spekulan dolar tidak akan bisa menggoyang negara ini. Pada titik ini, kita bisa belajar, betap pentingnya belajar Bela Negara agar bisa memahami konteks peperangan global di bidang ekonomi dan energi yang sedang berlangsung di dunia ini.

Kedaulatan Beras : Saat Sawah Mengalahkan Wall Street.

Advertisement

Para kritikus di Jakarta sibuk menghitung depresiasi Rupiah terhadap dolar seolah-olah besok kita tidak bisa makan. Mereka lupa satu hal, Indonesia tahun 2026 sudah bukan Indonesia 1998.

Ya, minyak goreng mahal. Ya, tahu dan tempe akan ikut tersengat karena kedelai kita masih 70% bergantung pada impor. Ya, harga gandum naik karena kita tidak punya sebutir pun gandum yang tumbuh dari tanah sendiri. Semua itu nyata. Dan kita tidak perlu menutup mata atas fakta tersebut.

Tapi ada yang lebih penting dari sekadar jujur mengakui kelemahan: kemampuan membedakan mana luka dan mana luka yang mengancam nyawa. Karena untuk dua urusan paling eksistensial, PERUT dan ENERGI GERAK, Indonesia 2026 sudah membangun benteng yang belum pernah ada sebelumnya.

Kita mulai menjinakkan dominasi dolar lewat transaksi LCT yang kini berjalan dengan 6 negara mitra dagang utama kita, termasuk Tiongkok dan UEA. Skema non-dolar ini bahkan sudah merambah ke sektor impor bahan baku pangan dan pupuk, sehingga pelan tapi pasti, ketergantungan kita pada mata uang Amerika di sektor hulu mulai dipetakan untuk habis.

Kita isi perut dengan beras hasil keringat petani kita sendiri setelah produksi padi mencatat tren tertinggi dalam satu dekade dan stok Bulog melampaui target buffer stock nasional. Dan yang paling menggetarkan: kita nyalakan traktor, truk, dan generator bukan lagi dengan solar impor melainkan dengan biodiesel B40 dari kebun sawit Kalimantan dan Sumatera.

Bukan wacana. Bukan pilot project. Realisasi B40 sepanjang 2025 mencapai 14,2 juta kiloliter melampaui 105% dari target menghemat devisa Rp130,21 triliun sekaligus memangkas impor solar dari 8,3 juta ton menjadi 5 juta ton dalam satu tahun saja. Dan 2026 kita sedang bersiap menuju B50 yang jika tuntas berarti impor solar Indonesia nol selamanya.

Jadi ketika Istana bilang “orang desa enggak pakai dolar”, itu bukan kelakar menghibur rakyat. Itu adalah pernyataan kedaulatan ideologi yang tegas bahwa ada lapisan fondasi ekonomi Indonesia yang tidak bisa digoyahkan oleh spekulan mata uang manapun, karena ia tidak berdiri di atas dolar. Ia berdiri di atas tanah dan sawit.

Tapi kita juga harus jujur pada diri sendiri tentang di mana dolar masih masuk lewat pintu belakang.

Petani desa memang tidak bertransaksi dengan dolar. Tapi dolar masuk diam-diam lewat harga pupuk fosfat dan kalium yang masih kita impor dari China, Rusia, Kanada, dan Timur Tengah.

Keterangan: Kedaulatan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Nasional.

Depresiasi Rupiah menekan biaya produksi pertanian secara nyata, bahkan ketika petaninya sendiri tidak pernah memegang selembar dolar pun seumur hidupnya. Ini adalah lubang yang sedang aktif ditambal bukan lubang yang diabaikan.

Pertama, transaksi impor pupuk sudah mulai masuk skema LCT, dolar perlahan digantikan mata uang lokal bahkan di rantai pasok pertanian. Kedua, dan ini yang paling menggetarkan: di bawah tanah Papua Barat, sedang dibangun benteng ketiga.

Kawasan Industri Pupuk Fakfak berbasis gas alam Papua sendiri dari Blok Kasuari dirancang dengan kapasitas produksi 1,15 juta ton urea dan 825 ribu ton amonia per tahun. Jika beroperasi penuh, ia akan memenuhi 70-80% kebutuhan pupuk nitrogen nasional dari perut bumi Papua, bukan dari kapal impor asing. Konstruksi fisiknya dimulai 2026. Sekitar 2028-2029, Indonesia tidak perlu lagi bergantung pada urea impor.

Apakah fosfat dan kalium masih PR? Ya. Apakah kedelai masih PR? Ya. Kita tidak akan berbohong soal itu. Tapi inilah bedanya Indonesia 2026 dengan Indonesia 1998. Dulu ketika Rupiah runtuh, seluruh lini ambruk sekaligus dalam satu malam, perut, energi, industri, kepercayaan diri, semua runtuh bersamaan tanpa ada satu pun benteng yang berdiri. Sekarang?

Ketika dolar bergejolak, ada benteng yang sudah kokoh berdiri. Ada lubang yang sedang aktif ditambal. Dan ada peta jalan yang jelas menuju lubang-lubang berikutnya. Bukan sempurna. Tapi bergerak. Dan tahu ke mana arahnya.

Spekulan asing di bursa boleh panik dan kabur membawa kertas saham mereka. Hedge fund Wall Street boleh bertaruh melawan Rupiah sepanjang malam. Tapi selama Bulog punya stok beras yang cukup untuk memberi makan bangsa ini tanpa mengemis ke pasar internasional, selama mesin traktor kita berputar pakai biodiesel dari kebun sawit anak negeri sendiri, dan selama di bawah tanah Papua sedang tumbuh pabrik pupuk yang akan membebaskan petani kita dari jerat harga dolar fondasi Indonesia tetap berdiri tegak berwibawa.

Depresiasi Rupiah itu nyata. Kedelai yang belum berdaulat itu nyata. Fosfat dan kalium yang masih impor itu nyata. Kita akui semuanya tanpa basa-basi, tanpa retorika kosong.

Tapi ada yang lebih nyata dari semua angka kurs di layar Bloomberg malam ini: Nasi yang kita makan malam ini tidak satu suap pun dibayar dengan dolar.

Biarkan Wall Street bergetar dengan dolarnya. Kita tetap kenyang dengan kedaulatan kita dan sedang bekerja keras mengisi yang belum. (**)

Opini oleh: Ketua MPO FKBN Bakorda Lamongan, Dr. R. Chusnu Yuli Setyo, M.Pd.

Advertisement