PORTAN Hadirkan Kretek Herbal sebagai Warisan Budaya Nusantara di Era Industri Modern
Kabar1lamongan.com – Tembakau memiliki perjalanan sejarah panjang di Nusantara. Komoditas yang kini lekat dengan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Indonesia ini telah melalui berbagai fase, mulai dari masa kerajaan, kolonialisme, hingga era industri modern yang sarat regulasi dan tantangan global.
Sejarawan mencatat bahwa tembakau mulai dikenal di Nusantara sekitar abad ke-16, seiring masuknya bangsa Eropa, khususnya Portugis dan Spanyol, yang membawa tanaman ini dari benua Amerika. Dalam waktu singkat, tembakau diterima luas oleh masyarakat lokal dan beradaptasi dengan budaya setempat. Di sejumlah wilayah kerajaan di Jawa, Madura, Sumatra, dan Nusa Tenggara, tembakau tidak hanya digunakan sebagai komoditas konsumsi, tetapi juga bagian dari ritual adat dan simbol pergaulan sosial.
Pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara, tembakau dibudidayakan secara sederhana oleh rakyat. Beberapa kerajaan memanfaatkan tembakau sebagai barang dagangan antardaerah. Di Jawa, tembakau bahkan menjadi tanaman penting di wilayah pedalaman yang tanahnya subur, seperti daerah Kedu, Mataraman, dan Madura, yang hingga kini dikenal sebagai sentra tembakau berkualitas.
Memasuki era kolonial Belanda, tembakau berubah menjadi komoditas strategis. Pemerintah kolonial menjadikan tembakau sebagai salah satu tanaman unggulan dalam sistem tanam paksa dan perkebunan swasta. Lahirnya perkebunan tembakau besar, seperti tembakau Deli di Sumatra Timur, menandai era industrialisasi awal tembakau Nusantara. Produk tembakau dari Hindia Belanda bahkan menembus pasar Eropa dan menjadi sumber devisa penting bagi kolonialisme, meski dibangun di atas eksploitasi tenaga kerja pribumi.
Pasca-kemerdekaan, tembakau tetap memainkan peran vital dalam perekonomian nasional. Industri rokok kretek, yang merupakan inovasi asli Indonesia, berkembang pesat dan menjadi simbol identitas tembakau Nusantara. Kretek tidak hanya menyerap jutaan tenaga kerja, mulai dari petani hingga buruh pabrik, tetapi juga menjadi sumber penerimaan negara melalui cukai.
Di era modern, tembakau Nusantara menghadapi tantangan baru. Regulasi kesehatan, kampanye pengendalian tembakau, serta dinamika pasar global menuntut adaptasi di seluruh rantai industri. Meski demikian, tembakau masih menjadi tulang punggung ekonomi di banyak daerah, terutama di Jawa Timur, Jawa Tengah, NTB, dan sebagian Sumatra.
Pemerintah dan pelaku industri kini didorong untuk menempatkan tembakau tidak hanya sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga warisan budaya dan sejarah bangsa. Upaya perlindungan petani, inovasi produk, serta diversifikasi pemanfaatan tembakau menjadi agenda penting agar komoditas ini tetap berkelanjutan di tengah perubahan zaman.
Sejarah tembakau Nusantara menunjukkan bahwa tanaman ini lebih dari sekadar produk konsumsi. Ia adalah bagian dari perjalanan sosial, ekonomi, dan budaya Indonesia dari masa kerajaan hingga era modern yang terus bertransformasi mengikuti denyut sejarah bangsa.
PORTAN, “Heritage Of Kretek Herbal.”
Portan Bukan Hanya Sekedar Kretek Herbal, Portan adalah Warisan Budaya dan Cita Rasa leluhur yang di Moderanisasi.
Kretek adalah karya khas Indonesia. Tanah yang kaya dan subur, iklim tropis, serta pola hujan yang khas, menjadikan Indonesia penghasil tembakau terbaik di dunia. Diawali dari produksi skala kecil hingga kini menjadi produksi massal, perjalanan industri kretek merupakan cerminan sejarah Indonesia.
Dalam sejarahnya, jalur rempah ini udah ada sejak masa praaksara dengan ditemukannya informasi dari naskah dan catatan perjalanan mengenai pemahaman rempah-rempah di Yunani dan wilayah Asia seperti India dan Arab. Dalam catatan bangsa-bangsa itu, udah disebutkan satu sampai dua jenis kata kunci yang menjadi indikasi adanya hubungan perdagangan dengan masyarakat Nusantara.
Pada tahun 400 Masehi, seorang pujangga India bernama Kalidasa menuliskan Dvipantara yang merupakan nama lain dari kepulauan Nusantara dalam salah satu karyanya. Pada masa-masa selanjutnya, sekitar tahun 500 sampai 1200-an, wilayah Nusantara berada dalam pengaruh kebudayaan Hindu dan Buddha. Jadinya negara atau kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara memiliki corak Hindu dan Buddha juga, seperti Sriwijaya, Medang, Kadiri, sampai Majapahit. Kerajaan-kerajaan ini paham betul potensi perdagangan jalur rempah dan Herbal, sehingga mereka mencoba untuk memanfaatkan jalur rempah dan ini untuk kegiatan ekonomi mereka.
Salah satu kerajaan yang kaya raya adalah Sriwijaya yang berhasil memanfaatkan jalur rempah & Herbal sebagai sumber ekonomi bagi kerajaannya. Kerajaan Sriwijaya bisa kaya dengan mengawasi dan melayani jalur perdagangan yang menghubungkan India di barat dan Cina di utara.
Jadi, setiap pedagang yang melewati jalur rempah dan herbal yang dikuasai Sriwijaya harus membayar uang pajak ke mereka. Nah, ketika Nusantara didominasi oleh kerajaan-kerajaan Islam. Pada masa ini juga masyarakat dan penguasa wilayah di Nusantara memanfaatkan dengan baik jalur rempah ini dan menjadi pemeran penting dalam perdagangan rempah & Herbal dengan para pedagang Eropa.
Sampai nanti pada tahun 1511, salah satu pelabuhan penting dalam jalur rempah & Herbal yaitu kota Malaka jatuh ke tangan Portugis.
Pada masa praaksara, jalur rempah & Herbal memiliki posisi penting dalam perkembangan kepercayaan dan kebudayaan di Nusantara. Kepercayaan seperti Hindu, Buddha, dan Islam besar kemungkinan masuk melalui aktivitas para pedagang India, Arab, dan Cina di rute jalur rempah untuk masuk ke wilayah kepulauan Nusantara. Bahkan kemudian pada sekitar tahun 1500 sampai 1600-an, agama Katolik dan Kristen juga masuk ke Nusantara melalui para pedagang Eropa seperti Spanyol, Portugis, dan Belanda.Dengan kata lain, jalur rempah ini membentuk kebudayaan masyarakat di kepulauan Nusantara menjadi beragam atau kosmopolitan. Pelaut dan pedagang Eropa, India, dan Cina datang ke Indonesia dan melakukan pertukaran budaya antarbangsa.
Jadi di sini kita bisa bilang, silang budaya dan interaksi internasional ini menegaskan pengaruh jalur rempah bagi Indonesia dan dunia.
Kemudian dari segi politik, jalur rempah pada masa Hindu Buddha membentuk satu cita-cita atau visi politik seorang raja bernama Kertanegara yang berkuasa di Kerajaan Singasari di Jawa sejak 1268 sampai dengan 1292.
Kertanegara ngebayangin satu kesatuan pulau-pulau yang disebut dwipantara. Tujuannya buat nunjukin hegemoni dan kekuasaan dari Kertanegara di Luar Jawa. Nama dwipa artinya pulau dan antara berarti terhubung, jadi dwipantara artinya pulau-pulau yang terhubung. Nama ini memiliki arti yang sama dengan nusantara.
Terus, apakah hubungan antara visi politik raja Kertanegara dan jalur rempah ini berhasil? Nah, visi dan gagasan mengenai kekuasaan di jalur rempah ini kemudian terus diwariskan ke keturunan-keturunan raja Kertanegara yang berkuasa di Kerajaan Majapahit. pengaruh politik jalur rempah dan Herbal sampai situ aja? Oh tentu tidak. Seperti yang udah disampaikan sebelumnya, keberadaan jalur rempah ini terus berlanjut sampe dengan masa kerajaan Islam dari tahun 1400 sampai 1800-an atau abad ke-15 sampai 19.
Pada masa ini juga, mulai datang para pedagang dari Eropa secara bertahap yang dimulai oleh Portugis dan Spanyol. Kedatangan para pedagang Eropa ini menjadi era baru bagi jalur rempah. Interaksi kebudayaan antara masyarakat Nusantara dengan Eropa kemudian membentuk satu hubungan perdagangan yang disebut merkantilisme di Eropa. Ibaratnya kalo sekarang, rempah dan jalur rempah ini tuh jadi viral dan digemari di Eropa.
Di Nusantara sendiri, peningkatan ekonomi dan perdagangan ini menyebabkan munculnya pelabuhan-pelabuhan di pesisir. Udah gitu, kalangan pengusaha dan bangsawan di Nusantara mulai semakin kuat.

PORTAN Kretek Herbal Hadir untuk Mengembalikan Warisan Heritage dan Cita Rasa leluhur Nusantara melalui Rokok Kretek Herbal dengan Sentuhan Teknologi Modern Prim – O (Penstabil Rasa dan Menjaga Cita rasa dari segala Cuaca) dan Teknolohi HTP (Heated Tobacco Products) yaitu di proses melalui pemanasan pada suhu +_ 350 C untuk mencegah zat kimia berbahaya.
PORTAN Bukan Hanya sekedar Kretek Herbal, Portan adalah Heritage dan warisan Budaya Nusantara Dengan Kandungan Rempah dan Herbal Kaya akan antioksidan dengan banyak Manfaat yang dapat mengobati Berbagai Penyakit seperti, Asma, jantung, penuaan dini, lemah syahwat, kanker, terapi pernafasan dan masih banyak penyakit lainya.
PORTAN Kretek Herbal Bukan Hanya Sekedar Rokok Dengan Rempah Rempah Herbal Khas Nusantara. PORTAN adalah Sebuah Maha karya Heritage Nusantara, Ujar CEO Portan Holding Company, Mukmin Azis. (Red)










