Kabar1lamongan.com – Nyadran adalah tradisi leluhur dari nenek moyang yang ada di tanah jawa, dimana di setiap daerah dalam melaksanakan tradisi nyadran itu sendiri berbeda beda. demikian juga yang dilakukan oleh masyarakat di dusun Slempit, Desa Pangkatrejo, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan.
Tradisi nyadran di setiap wilayah mempunyai ciri khas yang berbeda-beda sesuai dengan kearifan lokal yang ada di daerahnya. Seperti halnya di dusun slempit sendiri nyadran selalu melaksanakan doa bersama dan kirim doa kepada ahli kubur.
Acara yang dilaksanakan setiap tahun sekali ini dilaksanakan dengan khidmah dan meriah.
“Semoga bisa membawa berkah kepada kita warga dusun Slempit serta tetap terjaga kekompakan dan semangatnya.” kata Zaenal Arifin selaku kepala dusun dalam sambutannya.

Beliau juga menyampaikan kebanggaannya kepada pemuda yang selalu aktif semangat dan kompak dalam kontribusinya setiap kegiatan yang ada di dusun dan pemuda dalam satu wadah yaitu Ikatan Pemuda Slempit.
Masih kata Zaenal bahwa Nyadran atau Sedekah Bumi ini dilaksanakan selama dua hari hari senin dan Selasa di mana hari pertama khotmil quran di makam nya Mbah Liwon ( pengawal mbok rondo gondang ) dan malam selasa Pembacaan yasin tahlil masih di makam mbah liwon juga, serta selasa siang kita khotmil quran lagi di makam mbah Sholeh ( Mbah Sae ) dan Selasa malam baru puncak acara yaitu istighotsah, yasin, tahlil dan di isi mauidzoh khasanah.
Usmin ( Kepala Desa Pangkatrejo ) menghimbau untuk selalu menjaga tradisi yang baik ini serta memberikan apresiasi kepa seluruh warga dusun slempit yang selalu guyub rukun dan gotong royong terutama kaum mudanya.
Selain acara berlangsung meriah diisi dengan shalawatan yang menampilkan group sholawat Sabtu legi, juga khidmat dan dalam mauidzoh khazanah kali ini di sampaikan oleh KH. Hasyim Jaelani dari Pucuk Lamongan.
Dusun Slempit dengan lingkungan santri tidak anti dengan tradisi, yang penting tidak bertentangan dengan syariat demikian yang dikatakan salah satu tokoh agama masyarakat. (CA/Anas)










