Pelantikan PAC GP Ansor Tikung Masa Khidmah 2022 – 2024.
Kabar1lamongan.com – Risalah dawuh KH. Abdussalam Sohib bin KH. Sohib Bisri bin KH. Bisri Syansuri dalam pelantikan PAC GP Ansor Tikung masa khidmah 2022 – 2024 yang di ikuti puluhan kader ansor di Tikung. Sabtu malam, 28 Januari 2023. Sebagai generasi muda Nahdlatul Ulama’ yang berakhlaqul karimah, hendaklah selalu dekat dengan para sesepuh, karena :
البَرَكة مع الاكابر
“Keberkahan itu membersamai para pembesar atau sesepuh.”
Jagalah akhlaq
الشرف فى الادب لا فى النسب
“Kemuliaan sejati itu didapat karena budi pekerti yang baik, bukan karena nasab atau keturunan.”
Diantara keistimewaan orang yang baik atau beriman, jika kelak anak cucunya mengikuti langkah baiknya, adalah akan dikumpulkan di surga, dawuh KH. Abdussalam Sohib bin KH. Sohib Bisri bin KH. Bisri Syansuri melanjutkan, Allah berfirman :
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath Thuur: 21)
Tentang pengertian dzhurriyah atau anak cucu. Sebenarnya tidak terbatas pada silsilah nasab.
Dalam kitab Tafsir Sowi, Dzurriyah itu dibagi menjadi dua :
1. Dzhurriyah binnasab (Keturunan lahir dari ayah ibu)
2. Dzhurriyah bissabab (Keturunan karena suatu sebab)
Kemudian Dzhurriyah bissabab terbagi dua:
1. Bisababil mahabbah (Sebab cinta)
2. Bisababil ‘ilmi (Sebab ilmu)
Namun, diantara semua itu yang paling unggul adalah Bisababil ‘ilmi, lalu Bisababil mahabbah, baru Bisababinnasab.
Dalam berjuang di Nahdlatul Ulama’, jangan pernah berkecil hati karena bukan menjadi bagian dari dzurriyah asli para muassis atau masyayikh, justru harus lebih semangat karena derajat dzurriyah yang lebih utama adalah dengan jalan mengamalkan ilmu atau menaruh rasa cinta kepada para ulama’. Dua hal inilah yang lebih mendapat prioritas berkumpul bersama masyayikh di surga kelak.
Dalam era terkini, cara terbaik merawat NU adalah tetap jaga kebersamaan dan terus menguatkan barisan, jika dua hal ini mampu dijalankan maka kita tidak akan mudah goyah atau rapuh menghadapi segala tantangan.
Dalam arti sebuah syair karya ibnu mubarok disebutkan bahwa “Sungguh kebersamaan merupakan tali Allah maka berpegang teguhlah”. Ada maqolah yang berbunyi :
لا طاعة لمخلوق فى معصية الخالق
“Tidak boleh ada ketaatan untuk menjalankan maksiat”.
Begitu juga dalam dunia organisasi, apabila dalam perjalanan sebuah organisasi, ditemukan sebuah perintah yang tidak sesuai dengan AD /ART maka kita sebagai anggota berhak menolak dengan cara mengingatkan, sebaliknya jika itu positif harus dijalankan bersama.
Pun apabila ada perintah dari pucuk tertinggi kepengurusan Nahdlatul Ulama, Yaitu Rois Syuriah, laksanakan. Kesampingkan ego sektoral, kenali para sesepuh khususnys Rois syuriah.
Dalam berjuang di suatu Banom NU, jika kita sampai tidak kenal siapa Rois syuriah kita, maka ironi.
Lalu apa alasan Mbah Wahab Chasbulloh memberi nama organisasi gerakan pemuda NU dengan nama Ansor? Disebutkan dalam QS Al Hasyr ayat 8 sampai 10. Tergambarkan bagaimana karakter yang seharusnya dimiliki sahabat Ansor.

Ada 3 klaster sahabat :
1. Muhajirin
2. Ansor
3. Setelah mereka berdua
Ayat 8 : (Sahabat Muhajirin)
لِلْفُقَرَآءِ ٱلْمُهَٰجِرِينَ ٱلَّذِينَ أُخْرِجُوا۟ مِن دِيَٰرِهِمْ وَأَمْوَٰلِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا وَيَنصُرُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ
Artinya: (Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.
Ayat 9 : (Sahabat Ansor)
وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
Artinya: Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Ansor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Ansor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.
Ayat 10 : (Sahabat setelah mereka)
وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Artinya: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.
1. Sahabat muhajirin, diusir dari tanah kelahiran, tanpa bekal, meninggalkan keluarga, keinginannya hanya
1. 1. Ingin memperoleh ridho allah
1. 2. Memperjuangkan agama allah
2. Sahabat Ansor, mereka sudah mukim di Madinah, dan sudah iman sebelum kedatangan Rasulullah. Mereka mempunyai kepribadian
2.1. Mencintai dan menyambut dengan lapang dada kepada sahabat pendatang.
2.2. Tidak ada rasa hasud dalam hatinya terhadap apapun yang didapatkan sahabat oleh muhajirin
2.3. Mendahulukan kepentingan orang lain. Meskipun dia juga membutuhkan.
3. Sahabat yang datang setelahnya.
Mereka mempunyai pribadi yang tidak lupa berterimakasih, dan selalu mendoakan.
Dari ketiganya mari kita ambil hikmah sebagai motivasi khidmah, khususnya karakter-karakter mulia mereka. Imam Al Ghozali mempunyai 6 teori untuk menstabilkan motivasi ibadah. Dan hal ini bisa kita aplikasikan dalam ranah organisasi.
1. المشارطة
Menyusun program.
2 مراقبة
Merealisasikan.
3. محاسبة
Evaluasi.
4. معاقبة
Penghargaan/ apresiasi.
5. مجاهدة
Kesungguhan meningkatkan prestasi.
6. معاتبة
Tidak boleh berpuas diri sebelum purna. (MA)










