Monolog 505 Tahun Sejarah Desa Pajangan, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan
Kabar1lamongan.com – Sejarah budaya selalu menarik untuk di bahas, bahasan tentang cerita rakyat tentang lahirnya desa pajangan dan sudah berumur 505 tahun menjadi kisah, rahasia, cerita tersebut yang harus di ungkap lebih dalam dan hal itu juga menarik untuk di ulas sebagai bahan referensi, edukasi atau pengetahuan tentang sejarah budaya leluhur, berikut cerita rakyat tentang desa pajangan, kecamatan Sukodadi. Semoga bisa menjadi sebuah refleksi kesadaran masyarakat jawa umumnya tentang pentingnya kesadaran untuk menjaga sejarah budaya itu sendiri sebagai sendi kehidupan masyarakat jawa yang kaya akan nilai luhur leluhur, sejarah, seni budaya, terutama khususnya bagi masyarakat asli desa pajangan itu sendiri, cerita itu akan jadi spirit dan marwah agar terjadi, bisa ditularkan turun temurun. Berikut Monolog 505 Tahun ungkap cerita Sejarah Desa Pajangan, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan.
Alkisah sekitar tahun 1517 datang seorang musafir perempuan bernama Nyai Dewi Sekardadu salah satu putri dari kerajaan Blambangan yang diperistri Syeh Maulana Ishaq dari negeri Maghribi dan telah mempunyai Seorang putra yang bernama Raden Paku atau beliau dikenal dengan Nama Sunan Giri. Karena sesuatu hal dimana terjadi perpisahan antara Syeh Maulana dengan Nyai Sekardadu. Akan tetapi karena rasa cintanya Dewi Sekardadu sangat besar terhadap sang suami maka beliau selalu berusaha mencari keberadaan sang pujaan Hati ke arah pantura.
Dalam kelelahan beliau singgah di suatu lembah hamparan rerumputan, di rawa-rawa untuk sekedar melepas lelah dan mencari bekal untuk bertahan hidup.
Seiring berjalannya waktu orang melihat beliau seorang perempuan tanpa suami yamg terlihat sangat cantik dengan warna kulit putih kekuningan, orang memanggil dengan sebutan mbok Rondo Kuning dan selanjutnya beliau meneruskan hidup dengan menikah lagi bersama salah satu pengawalnya yang kelak dimana salah satu dari anak cucu beliau dinikahi oleh seorang pemuda tampan dari keturunan Majapahit, mas karebet, Anak dari kebo kenongo, sebelum dia menikah dengan seorang putri Demak dan mempunyai seorang putra yang bernama joko Slewah alias Raden Umar Wijaya.
Mas karebet berhasil menjadi sultan pajang dan terjadi peperangan dengan Mataram, yang mana Raden Hadi Wijaya, Sultan Pajang mengalah terhadap kerajaan Mataram yang saat itu dipimpin oleh Danang Sutowijoyo, yang mana beliau adalah putra angkat Sultan Hadi Wijaya sendiri sehingga Sultan Hadi Wijaya sendiri mengalah dan mengabdikan diri untuk perjuangan menyebarkan agama Islam di wilayah jawa timur.
Putra beliau (Sultan Hadi Wijaya) yang pertama Joko Slewah Alias Raden Umar Wijaya saat itu berkeinginan untuk mendirikan kerajaan Pajang Yang Kedua,. akan tetapi karena terburu-buru ada serangan Belanda pada tahun 1674, Pajang dihancurkan Belanda maka tinggal yang tersisa pajang panjangan.
Anak dan keluarga Raden Umar Wijaya disembunyikan dan disamarkan demi keselamatan, pada tahun 1807 keturunan beliau menjadi lurah pertama desa Pajangan bernama mbah Pasiman, dan cerita tentang desa pajangan ditularkan secara turun temurun. Setelah itu lurah ke dua dilanjutkan oleh anak beliau (mbah Pasiman) yang bernama Sutomo Wijoyo atau Joyo Sutomo tahun 1870 sampai dengan tahun 1935, Dilanjutkan mbah Muntalib tahun 1935 sampai dengan tahun 1968, dilanjutkan oleh Meah Diyan Tahun 1968 sampai dengan 1975. Selanjutnya, Bapak Suwawi tahun 1976 sampai dengan tahun 1990, Bapak Moch.Dachlan dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2007. Tongkat estafet kepemimpinan dilanjutkan dengan Bapak Ahmad Baidlowi dari tahun 2007 sampai dengan 2013, Bapak Muhid Rais tahun 2013 sampai dengan tahun 2019 dan tahun 2019 sampai sekarang di oleh Bapak Ahmad Baidlowi kembali. (**/F2)
*Sumber sejarah budaya cerita rakyat desa pajangan: Kades pajangan, Tokoh masyarakat asli desa pajangan. Minggu, (27/11/2022).











