Berita Jatim Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur : Waspadai Kenaikan...

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur : Waspadai Kenaikan Harga Beras di Jatim 

Surabaya,Kabar1lamongan.com – Harga beras merangkak naik dalam beberapa hari terakhir. Isu kenaikan harga beras tersebut terjadi saat isu kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM bergulir. Menilik hal itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mewaspadai adanya kenaikan harga beras. Dengan adanya kenaikan BBM per September 2022 serta pada pekan lalu pengadaan beras dalam program BPNT yang dirapel untuk kebutuhan tiga bulan ke depan, sehingga permintaannya melonjak, dan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kenaikan harga di pasar.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Hadi Sulistyo mengatakan, “Di lapangan, prakiraan luas panen padi pada bulan September sedang turun di musim kemarau, yang mana sudah memasuki musim tanam jagung dan palawija lainnya, Sehingga, diperkirakan kenaikan harga beras masih akan terjadi meskipun masih ada regulasi mengenai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang tercantum dalam Peratur Menteri Perdagangan No. 57/MDAG/PER/8/2017 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras. Oleh karena itu, lanjut Hadi, dalam menjaga adanya pasokan dan kestabilan harga, maka Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur melakukan upaya dalam mengatasi hal tersebut,” terangnya.

lanjutnya, “Upaya tersebut seperti menjaga ketersediaan padi/beras dengan mengoptimalkan lahan-lahan pertanian yang ada dengan memaksimalkan capaian target luas tanam dari MT Oktober 2021 – September 2022 serta menyiapkan target luas tanam padi dan jagung per kabupaten/kota periode Oktober 2022 – Maret 2023 secara detail,” ungkap Hadi Sulistyo.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur juga melaksanakan langkah-langkah operasional untuk mencapai target tanam padi melalui gerakan percepatan olah tanah dan tanam, meningkatkan Indeks Pertanaman (IP), Perluasan Areal Tanam (PAT), memastikan persiapan sarana produksi, alsintan, antisipasi perubahan iklim dan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), serta penanganan panen dan pasar.

Kemudian, upaya lainnya dengan meningkatkan produktivitas tanaman padi dengan memperbaiki manajemen pertanian dari awal tanam sampai dengan masa panen melalui penggunaan teknologi mekanisasi yang efektif dan efisien, penggunaan benih unggul bersertifikat, serta pengaturan pola tanam yang tepat.

“Kemudian langkah lainnya dengan melakukan pemantauan terhadap dampak perubahan iklim dengan melakukan pemetaan wilayah rawan banjir, kekeringan, dan endemis OPT, serta rutin memantau informasi iklim dari BMKG. “Selain itu bersama pihak lain juga melakukan pemantauan terhadap cadangan pangan dan distribusi stok beras di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur, ” katanya.

Sementara produsen beras secara umum tersebar merata di Jawa Timur, terutama di wilayah Kabupaten. Berdasarkan angka tetap BPS tahun 2021, terdapat 10 Kabupaten produsen beras tertinggi di Jawa Timur. Ke 10 Kabupaten itu adalah Lamongan dengan produksi beras sebesar 457.699 ton, Ngawi dengan produksi beras sebesar 454.127 ton, Bojonegoro dengan produksi beras sebesar 389.182 ton.

Kabupaten Jember dengan produksi beras sebesar 355.516 ton, Banyuwangi dengan produksi beras sebesar 296.500 ton, Tuban dengan produksi beras sebesar 282.600 ton, Madiun dengan produksi beras sebesar 266.652 ton, Nganjuk dengan produksi beras sebesar 247.893 ton, Ponorogo dengan produksi beras sebesar 233.662 ton, dan Gresik dengan produksi beras sebesar 219.227 ton.

Di wilayah sentra padi dan kabupaten-kabupaten di Jawa Timur tersebut, didalamnya terdapat penggilingan-penggilingan padi baik skala kecil, menengah, atau besar yang memproduksi beras medium maupun premium sesuai dengan permintaan pasar. (*Yok/GroupPimredJatim/red)