Lipsus Novian, Sosok entrepreneur muda yang bertekad ingin majukan Lamongan

Novian, Sosok entrepreneur muda yang bertekad ingin majukan Lamongan

Kabar1Lamongan.com – Kerja keras tak pernah mengkhianati hasil. Kisah Novian si anak tukang pecel dari Lamongan pun tak jauh dari itu. Dan sekarang dia membuktikan, bisa mengubah segalanya.

Bicara kerja keras tak lepas dari sosok Novian. Laki-laki kelahiran Lamongan, 19 Mei 1990 ini sekarang sudah punya sederet usaha. Mulai dari perusahaan landscape, perusahaan kontraktor, dan perusahaan properti. Semua usaha ini di bawah naungan satu perusahaan induk.

“Saya bukan dari keluarga mampu, saya hanya punya Impian dan semangat” kata dia kepada awak media Kabar1Lamongan.com, Sabtu (30/01/2021).

Menjadikan Energi Positif atas hinaan pada dirinya semasa dia kecil.

Bahkan, dia mengatakan, hidupnya pernah dicaci saudara-saudaranya karena keluarganya miskin. Tak mampu hidup layak.

Novian bercerita, saat kecil ayahnya tinggal di Jakarta. Membuka usaha taman. Tapi, tahun 1990an, landscape belum menjadi kebutuhan. Orang masih memandang sebelah mata : tukang kebun.

Uang hasil usaha ayahnya tak seberapa. Kerap, sang ibu dan tiga anaknya yang tinggal di Lamongan tak dikirim uang.

“Untuk menopang hidup, ibu saya jual pecel,” katanya. Sebagai anak tertua, kata Novia, sebelum sekolah dia membantu membawa dagangan ke pasar dulu.

Uang hasil pecel tak seberapa. Mendapat penjualan Rp100 ribu sudah senang sekali. Mereka bertiga bisa hidup. Hanya hidup. Selebihnya susah.

Novian pun harus putar otak jika ingin beli sesuatu. “Selepas sekolah saya ngamen.”

Tapi dengan kekurangan ini, justru membentuk karakter kuat Novian. Dia berpikir tak bisa selamanya ngamen. Maka itu, saat SMA, selepas sekolah dia menawarkan jasa landscape. Lagi-lagi tak banyak yang respons saat itu.

Saat SMA 1 Lamongan tempat dia sekolah membutuhkan pembangunan taman, dia nekat mengikuti tender. “Saya kelas 2 sma,” katanya.

Tender Pertamanya Nilai proyeknya Rp35 juta. Dan saat itu dia menang. Untung Rp8 juta, sebagian besar untuk ibunya.

Selepas lulus SMA, Novian menyusul bapaknya. Dia yakin bisa membantu dan mengubah usaha ayahnya lebih baik. Tiap hari Novian keliling perumahan mewah di Jakarta. Menawarkan jasa landscape. Seminggu-dua minggu, sebulan-dua bulan. Tak banyak yang nyantol.

Suatu pagi, dia bertemu orang yang sedang berolahraga di depan rumah. Novian disuruh masuk. Ditunjuklah taman yang harus diubah.

“Saya disuruh menggambar, dan datang lagi untuk mempresentasikan”, terang Novian.

Lanjutnya, “Saat Kedatangan kedua alhamdulilah deal. Saya kaget saat itu karena nilai Proyek nya cukup besar yaitu Rp1,8 miliar di tangan bocah ingusan. Seketika Saya komitmen mengerjakan sebaik baik nya sesuai pesanan dan harus bagus”, imbuhnya.

Dari hasil proyek itu, dia membelikan perhiasan ibu. Membeli tanah, dan sebagian buat membenahi website. Digital marketing landscape diperbaiki. Makin hari proyek pun makin banyak. Nilainya pun makin tinggi.

Kenapa yang pertama kali terpilirkan perhiasan buat ibu? “Ya, karena jika kita menyayangi orang tua, Tuhan pun menyayangi kita.” kata Novian.

Setelah sukses di Jakarta, Novian ingin membantu memajukan Lamongan. Kota bahari dan kota kuliner ini harus lebih maju dan semakin kokoh seperti usahanya.

Dia yakin di tangan pemimpin yang baik, amanah dan berkompeten, Lamongan makin maju. Novian berharap bisa sedikit banyak berperan andil sumbangsih dalam pembangunan di sektor yang dia kuasai agar Lamongan lebih baik lagi.

“Lamongan bisa membanggakan bukan hanya di skala nasional tapi juga di internasional, saya ingin berbagi pengalaman dan kembali ke kampung halaman dengan mengembangkan sektor usaha di sini ” ujar Novian.

Kearifan lokal akan menjadi prioritasnya,Karena dirinya melihat banyak potensi yang belum yang belum dijelajahi dan dimanfaatkan dengan baik. Dari potensi pertanian sampai wisata, misalnya, masih banyak puluhan tempat wisata belum tersiarkan maksimal. Kota-kota tetangganya, seperti Malang dan Banyuwangi, sudah lebih dulu memanfaatkan kearifan lokal. Mereka sudah sukses menjadi tujuan wisata berkelas internasional.

Untuk urusan kuliner juga demikian. Makanan khas Lamongan tiada duanya. Dan hanya ada di lamongan. Sayang, belum banyak wisatawan bertandang hanya untuk menikmati kelezatan kuliner Lamongan ini.

“Jangan sampai wingko babat diakui kota lain, pecel lele dan soto Lamongan orang tahunya cuma ada di Jakarta,” tutupnya. (Arif/F2)