Nasional Langka Sejak 76 Tahun Lalu, Fenomena Bulan Purnama Biru

Langka Sejak 76 Tahun Lalu, Fenomena Bulan Purnama Biru

Kabar1lamongan.com – Langit akan diterangi oleh bulan purnama sungguhan pada malam ini yang hanya terjadi setiap 19 tahun sekali dikutip dari Live Science. Sabtu (31/10/2020).

Bulan purnama pada malam ini akan menjadi lebih spektakuler dari bulan biasanya pada tahun ini. Hal lain yang membuat bulan purnama yang juga disebut “Bulan Pemburu” lebih istimewa, karena ini merupakan Bulan Biru atau Blue Moon yang berarti bulan purnama kedua yang terjadi di bulan Oktober, dan satu – satunya¬†bulan purnama ganda dalam tahun 2020.

Namun karena bulan purnama datang pada saat bulan berada pada jarak terjauh dari Bumi, ia juga akan menjadi Bulan Mikro kebalikan dari Bulan Super yang berarti terlihat sedikit lebih kecil dari bulan purnama biasa. Menurut NASA yang menjadikan bulan purnama ini lebih spesial yaitu statusnya sebagai bulan purnama kedua di musim gugur menjadikannya “Bulan Berang-berang”. Ini akan menjadi pertama kalinya sejak 1944 bahwa bulan purnama itu akan terlihat pada malam hari (jika cuaca mengizinkan) di semua zona waktu di Amerika Serikat, menurut Farmer’s Almanac.

Fasebulan purnama ditentukan oleh posisi bulan di orbitnya, bukan visibilitasnya di langit yang dimulai pada 31 Oktober pukul 10.49 EDT.

Oktober dimulai dengan bulan purnama Harvest Moon yang muncul pada 1 Oktober. Harvest Moon adalah bulan purnama pertama yang mengikuti ekuinoks September, dan biasanya jatuh pada Oktober setiap beberapa tahun sekali ungkap NASA.

Bulan Biru tidak benar-benar biru meski namanya begitu. Pada tahun 1940-an kontributor majalah astronomi Sky and Telescope mulai menggunakan istilah Blue Moon atau Bulan Biru pada bulan purnama ekstra dalam siklus musiman. Seiring waktu berjalan nama ini tetap digunakan menurut laporan Sky and Telescope pada tahun 2006.

Seperti semua bulan purnama, Blue Moon terbit di timur sekitar Matahari terbenam dan terbenam di barat sekitar Matahari terbit. Bulan tertinggi pada larut malam dan dini hari ungkap NASA.

Sementara Bulan Biru Mikro di Indonesia juga bisa disaksikan pada malam minggu 31 Oktober 2020, puncak purnama akan terjadi pukul 21.49 WIB terletak di konstelasi Aries menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional disingkat dengan Lapan.

Puncak purnama, dengan jarak geosentris 406.165 km, berdiameter sudut 29,40 menit busur dan terletak di konstelasi Aries.

Sedangkan apogee Bulan terjadi pada 01.29 WIB dengan jarak geosentrik 406.398 km berdiameter 29,42 menit busur dan terletak di konstelasi Pisces.

Sehingga bulan purnama ini dinamakan bulan purnama mikro karena jaraknya cukup berdekatan dengan titik apogee.

Maka Bulan Biru mikro ini akan dapat diamati pada arah Timur-Timur Laut sebelum terbenam Matahari hingga Barat-Barat Laut setelah terbit Matahari.

Bulan Biru terjadi setiap dua hingga tiga tahun sekali, terakhir kali terjadi pada 31 Januari 2018. Setelah tahun ini Bulan Biru akan muncul kembali tiga tahun mendatang yaitu pada 31 Agustus 2023.

Sementara fenomena Bulan Biru mikro terjadi lebih jarang lagi, terakhir kali terjadi pada 30 April 1999 dan akan kembali hadir pada 31 Mei 2026.

Dilansir dari Indian Express pada Selasa (27/10/2020), Direktur Nehru Planetarium Arvind Paranjpye mengungkapkan ketika Bulan Biru terjadi dalam tahun itu, kalender akan memiliki 13 bulan purnama yang biasanya 12 bulan purnama.

Bulan Biru mikro yang terjadi tahun ini juga makin spesial karena terjadi dalam satu bulan yang berdurasi 30 hari. Terakhir kali fenomena Bulan Biru ini terjadi pada 30 Juni 2007 dan akan terjadi kembali pada 30 September 2050.

Penamaan Bulan Biru ini tidak berkaitan dengan warnanya sama sekali. Bulan Biru mikro ini akan tampak berwarna kemerahan ketika terbit dan saat Bulan berada jauh di atas cakrawala, ia akan kehilangan rona merahnya dan akan tampak putih dengan banyak corak abu-abu.

Menurut para ahli hal ini disebabkan hamburan cahaya oleh atmosfer Bumi yang terdiri dari 78 persen nitrogen, 21 persen oksigen, dan 0,9 persen argon. Sisa 0,1 persen terdiri dari karbon dioksida, metana, uap air dan partikel debu.

Ketika seberkas cahaya memasuki atmosfer, ia dihamburkan ke berbagai arah oleh molekul udara. Bagian biru dari cahaya paling banyak tersebar dan bagian merah paling sedikit.

Lebih dekat ke cakrawala saat Bulan terbit atau terbenam, cahaya harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal daripada saat berada jauh di atas cakrawala.

Pada saat sinar cahaya mencapai kita, sebagian besar komponen biru telah tersebar dan hanya tersisa cahaya merah. Oleh karena itu pada saat bulan terbit dan terbenam akan nampak kemerahan.

Fenomena yang sama juga berlaku saat terbit dan terbenamnya Matahari. Komponen biru sinar Matahari yang terpantul ke segala arah membuat langit tampak biru.

Ketika Bulan terlihat melalui asap dan debu yang disebabkan oleh kebakaran hutan atau letusan gunung berapi, sebagian besar komponen merah tersumbat dan hanya sinar biru yang mencapai kita dan membuat Bulan bewarna kebiruan, yang berarti tidak ada kaitannya warna bulan dengan fenomena Bulan Biru.(***)