Komunitas Merantau ke Jakarta ingin Menjadi Guru Ngaji Ternyata malah sukses jadi Pengusaha...

Merantau ke Jakarta ingin Menjadi Guru Ngaji Ternyata malah sukses jadi Pengusaha Kuliner

 

Jakarta,Kabar1lamongan.com – siapa yang menyangka dari kampung halamanya di Lamongan, Beliau ingin merantau kejakarta untuk menjadi guru ngaji, namun nasib berkata lain. H Hasan perantau asal Desa Sidomukti Kecamatan Kembangbahu Lamongan justru sukses menjadi pengusaha kuliner lamongan.

Ketika di wawancarai oleh Tim Kabar1lamongan.com H Hasan mengatakan ,”pada tahun 1986 saya ingin merantau ke Jakarta sebenarnya tidak untuk berjualan makanan kaki lima, namun murni niat saya ingin menjadi guru ngaji di daerah Kebon Sirih Jakarta pusat. Namun ketika saya sudah menjadi guru mengaji di jakarta, saya memiliki beberapa waktu luang, dan waktu tersebut saya gunakan untuk bekerja di Restoran makanan Lamongan selama kurang lebih dua tahun, uangnya saya ingin kumpulkan untuk bayar kuliah.

“Seiring berjalanya waktu saya main ke teman teman saya di Jakarta untuk melihat aktivitas para perantau asal lamongan di jakarta. Mereka rata rata menjadi pengusaha kuliner Lamongan kaki lima. Melihat kesuksesan mereka, saya jadi termotivasi dengan usaha yang mereka geluti. Di usaha ini saya melihat keuntungan yang sangat lumayan dari usaha kaki lima. Memasuki tahun 1988 saya mulai memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri. Dengan bermodalkan gerobak kaki lima walaupun dengan mental yang masih sangat rendah karena saya merasa malu menghadapi para pelanggan. Pada saat itu saya mulai usaha kuliner saya dengan berdagang Soto Lamongan didaerah di Lucky Star, Taman Tirtaloka depan panggung dangdut di Daerah Pluit, lalu di daerah Puri sehat atau di sekital Mega mall yang sekarang namanya menjadi Pluit Village Mall di jakarta utara. pada saat itu saya masih belum menikah, banyak sekali kendala yang saya alami. walau pada saat itu saya sudah dibilang lumayan berhasil dengan mampu membuka empat cabang, namun dari segi management keuangan masih sangat amburadul. Lalu saya lanjut membuka cabang di Kalideres dan pindah ke Pluit. walau saya memiliki beberapa cabang, ternyata tidak menjamin uang saya bisa terkumpul karena sebenarnya orang tua saya melarang saya berkali kali untuk membuka cabang. Setelah itu pada tahuj 1991 saya mulai mencoba membuka warung Pecel Lele Lamongan dengan menu Ayam ,Bebek ,lele dan lainya di jalan K H moh.Mas Mansur daerah Jembatan Lima. Saya mengambil langkah tersebut larena saya melihat di sepanjang kawasan Jembatan Lima pada saat itu belum ada warung Pecel Lele Lamongan, kebanyakan mereka berdagang sop kaki dan sea food. Saat itu saya menjadi orang yang pertama yang membuka warung Pecel Lele Lamongan di jembatan lima. Sedangkan untuk warung Saya yang lain saya tutup karena beberapa alasan dan adanya proyek Mega mall di Pluit.

Beliau melanjutkan, pada tahun 1993 saya hanya mengurus 1 warung saja di Jembatan Lima. Lalu pada tahun 1994 saya membuka lagi cabang didepan TOPAZ Grogol yang sekarang menjadi Roxy Square, seiring berjalanya waktu saya banyak membuka cabang diantaranya di seberang Gajahmada plaza, di kampung jawa, dan berjualan di kantin Dharmala Pluit Resort namun hal tersebut hanya berjalan2 tahun lalu setelahnya digantikan oleh karyawan saya. Setahun setelah itu saya lepas semua cabang karena orang tua saya meminta saya untuk fokus saja memegang 1 warung. Banyak Mantan Karyawan saya melalui bimbingan saya, mereka mampu membuka usaha kuliner secara mandiri mereka menyebar dihampir seluruh pelosok negeri ini, diantaranya daerah ada di papua,sulawesi,jateng dan lainya Alhamdulillah sukses semua.

Pada tahun 2005-2008 saya mulai menabung dengan giat lewat kerja keras dan dilandasi ibadah bahwasanya kita bersyukur sepi rame rejeki pahala yang kita terima adalah sama . Saya budaya kan menabung dan saya tidak pernah melakukan kredit dalam hal apapun. Tidak lupa zakat penghasilan kita yang 2 setengah persen harta yang kita dapat wajib kita keluarkan dan diberikan kepada yang berhak. Memperbanyak sodaqoh tiap hari itu modal dasar saya. sebagian uang yang saya tabung untuk berangkat naik haji tahun 2008 bersama istri. sebagian saya belikan sawah dan sapi di kampung halaman dan di Jakarta juga saya membeli beberapa rumah untuk saya jadikan kontrakan.
Dari hasil berdagang itupun Alhamdulillah pendidikan anak saya juga bisa sampai ke Perguruan Tinggi. Anak saya pertama dan kedua sudah lulus dari Universitas Negeri Jakarta. Anak saya yang terakhir masih sekolah SMA di Pondok pesantren Dar ael Qolam Gintung Tangerang. Bagi saya pendidikan itu sangat penting terutama pendidikan agama, oleh sebab itu semua anak saya wajibkan untuk sekolah SMP dan SMA didalam lingkungan Pondok Pesantren sebagai bekal dunia akherat.

Cobaan terberat yang pernah saya alami pada tahun 2017 saya di uji oleh Allah dengan tiga rumah saya di Jakarta yang hangus terbakar berikut isinya. Rumah tersebut adalah rumah kontrakan dan termasuk tempat tinggal saya. Habis semua tidak ada yang bersisa. Setahun setelah itu saya kembali diuji oleh Allah dengan kebakaran lagi dirumah saya yang lain. Saya terima dengan ikhlas saya jalani dan bangun pelan-pelan rumah rumah saya yang terbakar. begitulah cara Allah memiliki rencana yang lain, Alhamdulillah setelah uang terkumpul saya bangun lagi rumah rumah saya yang terbakar sekarang rumah dan kontrakan saya jauh lebih bagus dan lebih permanen dari sebelumnya. Kejadian itu pula membawa hikmah yang lain kepada saya. pada tahun 2020 anak saya yang pertama memberikan hadiah untuk saya dan istri untuk melaksanakan ibadah umroh ke Tanah Suci.

Selain berdagang, saya juga aktif di beberapa organisasi kelembagaan, saat ini saya menjadi Ketua anak cabang PKB, saya juga aktif di organisasi perkumpulan perantau Lamongan diantaranya saya menjadi anggota PARWB ini adalah perkumpulan warga Lamongan desa Bugoharjo karena istri saya berasal dari desa Bugoharjo, saya menjadi ketua IKAFA, dan ketua Paguyuban ARELA JAYA.

Kelebihan dari usaha kuliner saya, dibanding yang milik orang lain terletak pada sambal istimewa yang saya racik sendiri. pernah saya coba memakai beberapa macam sambal antara lain sambal serundeng, dan sambal mentah, namun yang paling laris tetaplah sambal legendaris saya paling laku. Kalau ditanya apa yang menjadi Kunci kesuksesan, menurut saya selain kita harus berbakti kepada kedua orang tua dan mertua, dengan cara memenuhi kebutuhan mereka, kita juga harus membahagiakan istri juga keluarga, tak lupa untuk perbanyak shodakoh kepada orang yang membutuhkan terutama kepada orang-orang terdekat kita seperti saudara, tetangga, teman. Ujar Ketua Alumni IKAFA Jakarta barat. (Amin Santoso).